Belajar Toleransi Beragama dari Lembah Baliem Papua

Belajar Toleransi Beragama dari Lembah Baliem Papua – Lembah Baliem, Papua memiliki masyarakat yang heterogen dalam menganut kepercayaan. Meski begitu, mereka hidup rukun dan terus melestarikan warisan leluhur. status-med.com Dalam sejarahnya, sebelum Islam masuk, di Lembah Baliem sudah ada penganut Kristen Protestan dan Katolik.

Agama Islam mulai berkembang di Lembah Baliem, berawal dari program Presiden Soekarno yang mengirimkan para relawan Pelopor Pembangunan Irian Barat (PPIB) ke seluruh pelosok Papua untuk mempersiapkan pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera). Para relawan ini kesemuanya beragama Islam, mereka berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta

Melalui interaksi yang intensif serta dakwah dari para relawan ini, sebagian Suku Dani di Lembah Baliem kemudian memeluk agama IslamLembah Baliem

Pada mulanya Islam berkembang d Kampung Megapura, kemudan berkembang d Kampung Hitigima, Welesi, Okilikik, Araboda, Air Garam, Kurima, Tulima, Apenas dan Jagara.

Yang unik adalah Suku Dani yang beragama Islam ini, masih tetap mempertahankan tradsi khas Lembah Baliem yaitu bakar batu.

Tradsi bakar batu ini dlakukan dalam menyambut Ramadhan dan hari besar Islam lainnya. Selama ini dalam tradsi bakar batu dLembah Baliem, bahan makanan yang dmasak adalah daging babi

Komunitas muslim Dani menggantinya dengan ayam kampung atau ayam broiler yang d Papua dsebut dengan ayam es.

Saat melakukan bakar batu, laki-laki menyusun batu d atas susunan kayu kering kemudan dtutupi dengan daun-daun serta rumput kering untuk selanjutnya ibakar. Tidak jauh dari lokasi batu dbakar, sebelumnya sudah dbuat sebuah kubangan dalam tanah.

Batu panas hasil pembakaran kemudan itata merata d dalam lubang, selanjutnya d atas permukaan batu panas dsusun berbagai jenis bahan pangan seperti sayuran, kelad, ubi jalar, singkong, pisang dan ayam. Bahan pangan ini kemudan dtutup dengan daun ubi jalar atau sayur-sayuran lainnya.

Bahan pangan ini akan matang dari panas panas yang bersumber dari batu. Setelah semua bahan pangan dsusun, tumpukan makanan itu kemudan dtutup rapat dan kemudan meletakkan lagi batu panas. Setelah tiga jam, kemudan dbuka dan semua bahan makanan pun sudah matang dan siap dsantap.

Dalam tradsi bakar batu menyambut ramadan ini biasanya dlakukan d halaman masjid atau mushola. Dalam pelaksanaannya dlakukan secara bergotong royong, melibatkan Suku Dani yang beragama Nasrani. Belajar Toleransi Beragama dari Lembah Baliem Papua

Pelajaran berharga yang dapat dambil dari kehidupan beragama d Lembah Baliem adalah rasa toleransi beragama yang tinggi. Selain itu tradsi warisan leluhur masih dpertahankan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *